Dalam tulisan ini kita akan berbagi pengalaman dan mungkin kegelisahan kita akan perubahan zaman, dan efeknya terhadap lembaga pendidikan kita.
Saya menangkap sinyal ini setiap ada obrolan tentang pendidikan saat ini banyak lembaga pendidikan (juga dunia usaha) yg mulai gundah dengan adanya “revolusi industri 4.0/5.0” dan merasa itu menjadi seperti momok yang menakutkan:
– kekuatan yg ada seolah-olah tak akan mampu menghadapinya.
– tenaga manusia diganti oleh teknologi mesin krn “manusia tak sehebat mesin” maka manusia juga dilawankan dg teknologi robot.
– ada aura pesimis dalam lembaga pendidikan dengan keadaan guru/staf/SDMnya, namun juga ada ketidakmampuan dan ketidakpedean utk merubah keadaan dan melompat.
Kebingungan itulah “yang dirasakan semakin melumpuhkan keadaan” karena hakikat yg selama ini diperjuangkan dilepas dan ditinggalkan (krisis), harus diganti total dengan model atau faham yang lain. Akibatnya byk lembaga pendidikan yg terjerembab dlm byk aspek (manajemen, keguruan, pengajaran/pembelajaran, arah dasar, dst)
Dalam pendidikan humanis abad 21, diingatkan kembali hakikat yg dibuang itu harus dikembalikan ke kodratnya.
Maka poin soal kita dalam pendidikan humanis abad 21 ini adalah bagaimanakah mendesain pendidikan abad 21 di lembaga pendidikan kita? Bagaimana lembaga pendidikan kita mampu melahirkan anak-anak yang sesuai dengan zamannya.
Pointers yang akan kita perhatikan:
1. Blue print, ciri dan paradigma pendidikan abad 21.
2. Memahami Kecerdasan untuk menaklukkan abad 21

Secara global, saat ini pendididikan humanis abad 21 menitik-beratkan pada 3 hal, yaitu manusia, alam dan teknologi, dengan fokusnya:
1. Pembentukan karakter manusia seutuhnya
2. Pengembangan kearifan lokal untuk dunia
3. Aplikasi teknologi sebagai nilai tambah

Ciri-ciri yg terpotret di perkembangan abad 21:
1. Adanya tuntutan kemampuan multitasking
2. pemanfaatan multimedia
3. Online social networking
4. Online info searching
5. Video visual information
6. Hyper competitor
7. Rapid change

Hal yang perlu kita cermati dalam lembaga pendidikan kita utk masuk pendidikan abad 21 adalah:
1. Paradigma sekolah
2. Kurikulum sekolah
3. Guru/stafnya

Paradigma sekolah merupakan kesatuan cara pandang diri dan arah dasarnya dalam “melayani” generasi/anak murid dan masyarakat pada zamannya. Dalam prakteknya ada keragaman sekolah model. Sekolah Model itu kemudian menjadi standar tertentu dan memiliki “kriteria tertentu” utk “meluluskan” atau “mendiskualifikasi” layanan dalam proses. Tidak ada alternatif.
Lembaga pendidikan yg demikian, mulai ditinggalkan saat ini karena dianggap tidak memadai lagi untuk menjawab tantangan dan kebutuhan zaman, tidak mampu mengakomodasi perubahan zaman dan generasinya.

Ada 6 hal yang perlu kita perhatikan agar lembaga pendidikan kita bisa masuk ke perubahan abad ini:
#1. Agen Pembaharu
Lembaga pendidikan/guru/kurikulum memiliki kesadaran bahwa kondisi setiap anak/orang beragam, kompetensinya juga beragam. Maka konsekuensinya adalah adanya kesadaran sekolah/guru/kurikulum menjadi agen pembaharu. Sederhananya, anak/orang yang memiliki kemampuan minus dibantu berproses untuk menjadi plus, yang bermodal plus menjadi plus plus plus.
#2. Sekolah Inklusi: Multiple Intelligences
Sekolah menjadi inklusif terhadap keberagaman tsb, begitu juga dalam menyambut siswa masuk (baca menerima siswa baru).
Sekolah yg berpegang mati pada seleksi siswa baru harus ber- IQ tinggi dg syarat yg rumit pasti akan ditinggalkan atau semakin kosong kelasnya. Mengapa? Pasti sekolah tersebut tidak mengenal multiple intelligences research (MIR), buta terhadap keberagaman modal manusia pembelajar. Sama, seperti orang tua akan dibenci anaknya kalau ketiga/keempat anaknya dipatok dengan standar yg satu dan sama tanpa ada alternatif keistimewaan dalam keberagaman.
Mau tidak mau, suka tidak suka, lembaga pendidikan, kurikulum, guru/orang tua mesti memahami multiple intelligences utk dapat membantu anaknya berselancar dalam perubahan abad; menghantarnya untuk sukses dalam hidup berdasarkan modal otentiknya yang telah berkembang.
Operasional cost per siswa bisa untuk memetakan dan mengembangkan hal itu bisa dihitung dan relatif murah (bahkan bisa gratis bila mau). Tidak banyak. Sebenarnya murah meriah.
Keuntungannya bagi lembaga pendidikan malah jauh lebih banyak:
1. Para kepsek dan guru (yayasan/sejenisnya) punya peta pendampingan, yg selama ini mereka mengajar tidak punya peta siswa/menangani SDMnya. Pokoknya hajar bleh, perang seperti rambo.
2. Sekolah memiliki peta perorangan, klasikal, level/angkatan dan sekolah/lembaga sehingga kita bisa melihat krisis2 mereka dengan baik dan bisa memberi resep dengan pas.
3. Membantu sekolah utk mengembangkan bakat dan minat siswa dalam aneka kegiatan secara pas, juga metode pengajaran/pembelajaran yg selalu aktual, terkini. Selama ini byk lembaga pendidikan belum menyadari itu.
4. Menyadarkan kita akan otentiaitas seorang pribadi, semua anak cerdas dengan multiple intelligences, Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu/seseorang sebagai produk gagal. Kecerdasan (redefinisi): kebiasaan, perilaku yang diulang-ulang (ingat, belajar merupakan proses mengulang-repetisi).
Indikasi seseorang cerdas itu:
1. Kreatif
2. Bisa menyelesaikan masalah (problem solving).
2 hal itu ada di murid2 kita, tapi langka di guru2nya/atasan kita…. Joke aja
Hal yg perlu disadari, bahwa kecerdasan seseorang tidak terkait kondisi fisik, kondisi brain, hasil tes-tes standar; TAPI TERKAIT DENGAN DISCOVERING ABILITY, RIGHT PLACE, DAN MANFAAT.
Dengan discovering ability dan the right man on the right place kecerdasan (MI) akan berkembang dan sekaligus anak akan menemukan diri dan kemampuannya. Inilah titik balik perubahannya.

#3. Belajar itu menyenangkan (School = 2nd Home)
Ki Hajar Dewantara menyeru Sekolah itu Taman Siswa, wahana dan wacana bermain, belajar dan berlatih. Itu menyenangkan karena lembaganya/gurunya (juga orang tuanya) kenal dengan muridnya (bdk. Pemetaan multiple intelligences). Bila kita telah mengerti itu maka kurikukum bisa kita kreasi sesuai kebutuhan anak dan zaman tanpa harus berkelahi dengan pemerintah, dan kita bisa menempatkan siswa sebagai subjek pendidikan (bahasa kerennya student centered learning). Secara istilah kita biasa, secara praksis luar biasa tidak biasa…
Indikasi hal itu benar menyenangkan atau tidak tanyalah ke para murid dan didatakan, akan terbaca dalam garfik atau tabel, dsj. seberapa menarik dan menyenangkan kelas dan proses pendidikan lembaga kita. Tak banyak sekolah berani begitu….
Multiple intelligences membantu sekolah dalam mengkreasi minimal 64 metode dalam pembelajaran/pengajaran yg berbasis pada anak dan situasi kelas. Sangat dinamis…Bila itu dikombinasikan dengan Taksonomi Bloom, Living Values serta Taman Siswa, lebih dar 600 metode bisa dikreasi secara apik dan pas…
#4. Pematik Bakat Minat
Dengan multiple intelligences lembaga pendidikan/guru/orang tua dan juga kurikulum mematik bakat dan minat siswa.
Disain mata pelajaran perlu kita sadari itu terkait dengan bakat, ada kapasitasnya. Sedangkan minat dipatik dalam ekstra kurikuler.
Bakat dan minat merupakan kekhasan yg dimiliki seorang pribadi, payungnya lembaga pendidikan (kala cenderung akademis saja).
Bakat (rasa suka internal) secara profesional merupakan kemampuan problem solving; dan minat (rasa suka eksternal) yang dalam tataran profesi merupakan kreatifitas.
Ada bermunculan saat ini lembaga pendidikan yg sudah sangat profesional menerapkannya…
bukan sekolah katolik.

#4. Kompetensi
Kompetensi, merupakan kemampuan yang dalam dan luas seperti samudera karena mencakup kemampuan sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge) dan tersimpul dalam penilaian otentik
#6. Guru Terbaik
Guru terbaik dalam lembaga pendidikan abad 21:
memerankan fasilitator, katalisator dan mentor dalam proses pembelajaran. Agar bisa begitu? Ya pelatihannya kontinyulah, baik internal maupun eksternal.
Terima kasih kepada moderator dan semua rekan atas waktu dan kesempatan yg diberikan. Semoga bermanfaat. Mohon maaf bila masih banyak kekurangan, termasuk dalam repons tanya jawab yg harus berhemat waktu. selesai….

lkstj

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2019 SMP President (Boarding School) -  Sekolah Model Terakreditasi A                                                                                                       Developed by DbAse StudioTM

Log in with your credentials

Forgot your details?